Latest Post

Nekat Gadaikan Motor Teman Demi Bayar Hutang

Written By Hapra Indo on 10/21/2014 | 19:29

Kediri, hapraindonesia.co - Sukaji, 42, warga Desa Plaosan, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Selasa (21/10) harus menjalani pemeriksaan di Polsek Wates. Pasalnya, dia telah melakukan penipuan dan penggelapan sepeda motor Supra Fit milik Suharto, 45, warga Dusun Beji, Desa Wonorejo, Kecamatan Wates.

Aksi penipuan ini bermula saat tersangka pada Kamis (25/9) sore sekitar pukul 18.00 WIB datang ke rumah korban untuk meminjan sepeda motor untuk keperluan sebentar. Korban yang tak menaruh curiga dengan tersangka, akhirnya sepeda motor Supra Fit dengan Nopol AG AG 3829 BG miliknya.

Kecurigaan korban akhirnya muncul dua hari kemudian. Pasalnya tersengka yang pamit meminjam motor sebentar, ternyata setelah dua hari motornya tak kunjung dikembalikan. Korban pun melapor ke Polsek Polsek Wates, Sabtu (27/9).

Tersangka yang sempat kabur di Kota Kediri, akhirnya Minggu (19/10) malam sekitar pukul 22.00 WIB berhasil diringkus 4 anggota buser Polsek Wates saat tersangka pulang ke rumahnya. Selanjutnya, tersangka digelandang ke Polsek Wates untuk pemetriksaan lebih lanjut.

Dihadapan petugas tersangka nekat melakukan aksi penipuan sepeda motor lantaran terlilit hutang senilai Rp.12.000.000,- "Motornya saya gadaikan di Desa Gondang Rp 2 Juta. Uangnya lalu saya buat bayar hutang, "terang tersangka.

Kapolsek Wates AKP AG Trihandono menuturkan, dari hasil pemeriksaan terangka melakukan penipuan di dua TKP di Kota Kediri. " Satu sepeda motor di Kelurahan Banaran Kecamatan Pesantren dan di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Akibat dari perbuatannya tersangka kami jerat pasal 378 KUHP, "jelas Kapolsek Wates.(Dt/B@m)

Keterangan Gambar : Tersangka penipuan dan penggelapan saat berada di Polsek Wates.

Teman Aniaya Teman, Akibat Terpengaruh Miras

Kediri,hapraindonesia.co - Nurhidayanto, 21, warga Desa Tawang, Kecamatan Wates, Kabupten Kediri, buron pelaku penganiayaan kepada temannya sendiri yakni Waluyo, 40, warga setempat, Senin (20/10) malam sekitar pukul 19.00 WIB diringkus anggota buser Polsek Wates di rumahnya.

Pelaku saat ini menjalani pemeriksaan di Polsek Wates. Kasus penganiayaan ini bermula saat pelaku dan korban, Selasa (14/10) dini hari pesta miras bersama di pinggir sawah. Keduanya yang sudah terpangaruh miras, tiba-tiba pelaku memukul kepala korban menggunakan botol miras merek kuntul.

Korban yang tak sempat menghindar, botol yang diarahkan kepala korban mengenai pelipis mata sebelah kiri dan bibir. Kaget dan tak sempat membalas pelaku lantaran mengalami luka parah, korban langsung menuju ke RS terdekat di wilayah Wates.

Usai mendapat perawatan, dan di pelipis mata sebelah kiri mendapat 3 jahitan, korban melapor ke Polsek Wates. Petugas mendapat laporan tersebut saat itu langsung mencari pelaku di rumahnya. Namun saat dicari korban sudah kabur menyelamatkan diri. Selang 1 Minggu akhirnya petugas berhasil meringkus pelaku dirumahnya saat tidur.

Pelaku selanjutnya digelandang ke Polsek Wates. Dihadapan petugas saat interogasi usai menganiaya korban mengaku kabur di wilayah Wates ke rumah temannya. " Saya mabuk dan akhirnya saya memukul temannya. Ya gak ada masalah sama dia (korban), "terang pelaku.

Kapolsek Wates AKP Ag Trihandono menuturkan pelaku penganiayaan saat ini masih dalam pemeriksaan. "Barang bukti botol kuntul sudah kita amankan. Pelaku akan kita jerat pasal 351 KUHP dengan ancaman kurungan maksimal 4 tahun penjara, "tutur AKP Ag Trihandono.(Dt/B@m)

Keterangan Gambar : Pelaku penganiayaan saat diamankan di Polsek Wates

Dua Orang Tewas, Tertimpa Pohon Asem Londo

Written By Hapra Indo on 10/20/2014 | 20:18

Kediri, hapraindonesia.co - Peristiwa kecelakaan akibat tertimpa pohon asem londo tumbang di Jalan Raya Sukarno-Hatta Desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Senin (20/10) sore sekitar pukul 14.30 WIB mengakibatkan dua orang pengendara jalan tewas.


Dua orang tersebut yakni Frengky Agus Prasetyo, 30, dan Agung Nugroho, 25, warga Dusun Ngeblek, Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Kedua korban tersebut di larikan ke RSUD Pelem Pelem. Peristiwa kecelakaan pohon asem londo tumbang dan menewaskan dua orang ini, diketahui pertama kali Agung A, 43, warga Kecamatan Plosoklaten.

Saat itu, dia sedang melaju dari barat menuju ketimur dan melihat 2 pengendera sepeda motor dari arah berlawanan yakni timur menuju ke barat. Kemudian, setiba di lokasi tersebut di depan Pabrik rokok Aphace, tiba-tiba angin kencang dan pohon asem londo di sebelah utara jalan tumbang ke arah selatan hingga dua orang berboncengan mengendarai sepeda motor Vega warna merah kombinasi hitam Nopol AG 2051 EQ tertimpa pohon tersebut.

"Yang dibonceng langsung meninggal dunia di tempat. Dan satunya mulutnya mengeluarkan darah, "terang Agus. Warga yang mengetahui tersebut langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Pare Kota. Mendapat laporan tersebut langsung menuju ke lokasi kejadian.

Dua korban tertimpa pohon asem londo langsung di larikan ke RSUD Pelem Kecamatan Pare. Saat mendapatkan perawatan medis, salah satu korban Frenky Agus Prastyo meninggal dunia.

Kapolsek Pare Kota AKP Saiful Alam melalui Kasi Humas Aiptu Lilis Budiarti menuturkan, peristiwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh pohon tumbang akibat cuaca angin kencang. " satu meninggal di lokasi kejadian dan 1 meninggal dunia di RSUD Pelem. Sepeda motor milik korban saat ini diamankan di unit laka lantas Polres Kediri, "tutur Aiptu Lilis.(Dt

Keterangan Gambar: Korban saat berada di RSUD Pelem Pare.

Toko Sparepart Diesel Dibobol Maling

Kediri, hapraindonesia.co - Toko Putra Diesel yang  menjual berbagai alat Sparepart diesel di Jalan Pare Baru Desa/Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, milik Setiyo Wati, 32, warga jalan Simo Kalangan gang 2 No 148 Dusun Mloyo, Desa Mlancu, Kecamatan Kandangan, Senin (20/10) dibobol maling.

Akibatnya, korban mengalami kerugian mencapai Rp 58.6 Juta. Saat kasus pencurian ditangani pihak kepolisian. Kejadian ini bermula saat Tiyo Budi, 34, karyawan toko Putra Diesel warga Dusun Curang Pranti, Desa Karangejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, sekitar pukul 07.00 WIB, akan membuka pintu toko tersebut.

Setiba di toko milik saudaranya itu, saksi akan membuka pintu harmonika, tiba-tiba saksi  di kejutkan dengan pintu tersebut terbuka sedikit. Alangkah kagetnya toko tersebut dalam keadaan acak-acakan dan beberapa alat perlengkapan Diesel hilang.

Kemudian saksi menghubungi Setiyo Wati (korban) dan diteruskan ke Polsek Kandangan. Kapolsek Kandangan AKP Ismu Kamdaris menuturkan mendapat laporan ada pencurian dia langsung menuju ke lokasi kejadian.

" Ada sekitar 22 jenis spare part yang hilang, kami menduga pencurinya lebih dari 1 orang. Akibat dari peristiwa ini korban mengalami kerugian Rp 58,6 Juta, "tutur Kapolsek Kandangan. (Dt/B@m

Keterangan Gambar: Foto Ilustrasi

Klinik Hewan di Dinas Pertanian Kota Kediri Belum Resmi Tetapi Sudah Bertahun" Beroperasi

Written By Hapra Indo on 10/17/2014 | 14:58

Kediri, hapraindonesia.co - sudah bertahun-tahun klinik hewan yang berada di lingkup Dinas Pertanian Kota Kediri beroprasi namun sayangnya yang menjadi permasalahan klinik tersebut bisa dikatakan belum legal, yang paling menarik dalam hal ini klinik tersebut tidak boleh menarik uang restribusi karena belum UPT apalagi menggunakan falisitas Negara.

Namun semua itu jauh berbeda dimana setiap ada orang yang membawa hewannya untuk di periksakan di tarek restribusi, seperti yang HAPRA terima dari sumber yang enggan namanya di plublikasikan, di situ pasien yang hendak mempriksakan hewan kesayangannya setelah selesai di periksa membayar kepada dokter yang berada di klinik tersebut dan tarikannya pun berfariatif.

Seperti yang kita ketahui perawatan hewan seperti jenis kucing maupun anjing si pemilik hewan tersebut rela merogoh kocek yang cukup besar untuk mendapatkan yang terbaik bagi si hewan kesayangannya, dan kebanyakan penggemar hewan seperti kucing dan anjing yang jenisnya juga bermacam-macam ini tergolong orang yang mampu.

Mendengar hal itu lantas HAPRA mencoba menemui kepala dinas yang bisa di katakan masih baru beberapa bulan menjabat di Dinas Pertanian Kota Kediri yakni Ir. Haris Candra Purnama, MM, di temui diruangannya haris menjelaskan kalau masalah tersebut sudah di ajukan di walikota, dan ini sudah proses untuk menjadi UPT supaya bisa menarik restribusi dan hal tersebut juga merupakan tambahan untuk PAD kota Kediri “masalah klinik hewan tersebut sudah di ajukan agar jelas peruntukkannya, dan walikota sudah menyetujuinya hanya tinggal menunggu prosesnya, karena jika belum UPT klinik tidak boleh menarik uang yang belum jelas dasar hukumnya”jelasnya.

Dan ketika di konfirmasi terkait ada pemilik hewan yang memeriksakan ke klinik tersebut di tarik uang tanpa adanya kwitansi dimana uang tersebut jelas peruntukannya, Haris memanggil Sigit Setiono selaku Kabid Kehewanan Dinas Pertanian Kota Kediri agar lebih jelas, selang beberapa menit sigit masuk ruangan haris, di situ sigit menjalaskan terkait permasalahan tersebut, segit membantah tidak benar kalau menarik uang tanpa di sertai kwitansi, dan tarikannya pun tergolong rendah hanya pengganti obat saja.

Klinik tersebut ada 5 dokter hewan yang tida berstatus sebagai PNS dan yang dua berstatus harian lepas yang di gaji APNB, “ tidak benar kalau seperti itu, hanya si pemilik hewan mengganti ongkos obat yang di berikan” terang sigit, dan ketika di Tanya uang tersebut masuk kemana dan di peruntukkan buat apa sigit mengatakan kalau uang tersebut ya di belikan obat dan kebutuhan hewan lainnya, dan ketika di Tanya apakah hal tersebut bisa di benarkan karena jika belum UPT belum bisa menarik restribusi, sigit menjalaskan.

“lha kalau tidak di tarik obatnya siapa yang beli karena kebutuhan tersebut tidak di penuhi oleh APBD Kota Kediri”terangnya. Apapun semua itu penarikan yang belum ada dasar hukumnya tidak bisa di benarkan, yang sangat di kwatirkan akan menguntukkan beberapa pihak di dalamnya, apalagi praktek atau klinik tersebut beroprasi sudah bertahun-tahun. (luh

Keterangan Gambar: Kabid Kehewanan Dinas Pertanian Pemkot Kediri, Sigit Setiono.

Pasar Benih Ikan Pemkot Kediri Mangkrak

Kediri, hapraindonesia.co - Nasib Bangunan Pasar benih ikan milik Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Kediri di Kelurahan Tempurejo, mangkrak. Sejak berdiri hampir dua tahun lebih, bangunan tersebut terlihat tak berfungsi dan hampir roboh.

Sebanyak tiga ruangan di dalam lokasi pasar benih ikan nampak pintu-pintu ruangan yang terbuka dan jebol karena tidak terawat. Tidak hanya itu, dalam tiap ruangan yang dulu digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benih ikan hias, kini hanya terlihat kursi meja yang berserakan dan tumpukan-tumpukan wadah bekas tempat benih ikan Cupang yang terbuat dari kaca berukuran 25 cm x 25 cm berantakan dan tak terurus.

Bangunan yang dibangun dengan tujuan untuk pasar dan budidaya benih ikan di daerah Kota Kediri tersebut, saat ini terlihat terbengkalai tanpa ada aktivitas jual beli maupun keramaian pedagang. Purnomo (26), warga Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri kepada Hapra Indonesia mangatakan, lokasi tersebut dulunya sempat digunakan untuk pasar benih ikan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan setempat.

Tetapi entah kenapa sejak dua tahun belakangan ini bangunan tersebut menjadi tak berguna. “Dulu setahu saya bangunan ini pernah ada aktifitas dan digunakan sebagai pasar benih ikan cupang, tapi nggak tahu kok cuma sebentar saja difungsikan. Sekarang kondisina sangat memprihatinkan, bangunannya rusak dan hampir roboh,” ungkapnya.

Purnomo menambahkan, dulu banyak warga sekitar, terutama pencinta ikan di Kota Kediri ramai datang dan membeli ikan hias seperti ikan cupang di pasar itu. Sebenarnya warga setempat menyayangkan mangkraknya bangunan pasar yang kini menjadi bangunan tak berfungsi selama hampir dua tahun lebih.

“Saat ini sudah tak difungsikan kembali, karena apa kami sendiri tidak tahu dan kami juga tidak pernah melihat petugas dari dinas terkait yang melakukan perawatan pasar tersebut. Padahal para pecinta ikan hias dahulu sudah mulai mengenal keberadaan pasar tersebut,” imbuhnya.

Bangunan yang diperkirakan sudah menghabiskan anggaran puluhan juta rupiah untuk pembuatan pasar benih ikan, terkesan percuma. Hampir dua tahun tak digunakan dan tak dirawat bangunan tersebut kini hampir roboh.

Pihaknya juga sangat menyayangkan mangkraknya bangunan tersebut. Sebab dinas terkait justru terkesan tak pernah melakukan perawatan ataupun memfungsikan kembali sebagaimana tujuan bangunan tersebut dibangun agar bermanfaat. “Kalau tahu seperti ini jadinya, lebih baik dikelola kelurahan saja dan bisa digunakan warga setempat, entah nantinya untuk apa, yang penting berfungsi dan bermanfaat,” pungkasnya.

Di lain tempat Kepala Dinas Pertanian Kota Kediri Ir. Haris Candra Purnama, MM, menjelaskan bahwa pasar benih ikan tersebut di kontrak petani ikan dari 2012 sampai akhir November 2014, kemudian 2013 awal terkena bencana kelud sehingga akhirnya dia tidak mengoperasikan. “Pada saat itu dikatakan mangkrak karena tidak dioperasikan, tetapi dalam kondisi masih di kontrak” Ucap Haris. (B@M

Keterangan Gambar: Kondisi pasar benih ikan milik Pemkot Kediri yang kondisinya nampak rusak dan hampir roboh karena tidak terawat.

Terminal Lama Kelampok Memprihatinkan, Kondisi tak Terawat dan Fungsinya Berubah

Written By Hapra Indo on 10/16/2014 | 18:37

KEDIRI, hapraindonesia.co - Bangunan Terminal Lama Kelampok yang terletak di Dusun Kwangkalan, Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunan untuk terminal mikrolet tersebut ditengarai tidak berfungsi sebagaimana rencana dan sia-sia, Bahkan sekarang terlihat rusak parah, dan kumuh.

Sebagian besar dari struktur bangunan terlihat rusak, seperti atap bocor, pintu-pintu kantor dan kamar mandi rusak, kaca-kaca jendela pecah, kamar mandi tidak digunakan, dan lantai sekitar terminal retak-retak. Ironisnya, instansi pemerintah yang mengurus terminal (Dishupkominfo) seakan tutup mata.

Menurut sumber Hapra Indonesia, Kamani (46) yang tinggal di area Terminal sejak Tahun 1990, mengatakan kalau bangunan tersebut sudah 15 tahun tidak pernah dirawat sama sekali. Namun, para pedagang di tempat itu setiap bulan masih tetap dimintai retribusi.

“Sudah sejak limabelas tahun bangunan Terminal Kelampok ini tidak dirawat ataupun diurus oleh instansi pemerintah yang menangani terminal di Kota Kediri. Padahal setiap bulannya selalu ada petugas terminal yang datang untuk mengambil retribusi sebagai hasil terminal dan retribusi dari penjual yang berjualan di area terminal,” ungkapnya.

Kamani mengaku sudah seringkali melapor ke dinas terkait (Dishubkominfo) tentang kondisi terminal yang sudah rusak dan butuh perawatan, dari jaman Kepala Dinas Perhubungan dijabat oleh Bambang Basuki Hanugrah, sampai ganti kesekianan kalinya, tetapi tidak ada tanggapan dari dinas tersebut.

Terminal yang seharusnya menjadi tempat transit karena adanya pertemuan antar penumpang dengan pengemudi itu ternyata tidak sepenuhnya berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi malah dijadikan tempat parkir truk gandeng oleh warga sekitar. Saat wartawan Hapra Indonesia menanyakan apa boleh truck warga parkir di area terminal?, Kamani pun menjawab dengan logat Jawa kentalnya “yo ngesak ne to dari pada nggone nganggur, wong sopire sing parkir trek yo wong kene kabeh” (ya kasian mas, dari pada tempatnya tidak terpakai, apalagi para sopir yang memarkir truck adalah warga sini semua).

Dari pantauan Hapra Indonesia, Minggu (24/09/2014) kondisi di area terminal memang sangat memprihatinkan, banyaknya pembatas jalan sudah rusak, jalan area terminal yang mulanya beraspal, kini sudah tertutup pasir tebal, bahkan papan penunjuk jalan juga sudah tidak ada.

Masih menurut Kamani, baru-baru ini dinas terminal sudah sedikit-sedikit melakukan renovasi, dan harapannya bangunan terminal tersebut dibangun lagi selayaknya terminal pada mestinya serta bisa difungsikan sebagaimana tujuan bangunan ini dibangun.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi Kota Kediri, M. Ferry Djatmiko, S.Sos, MSi, melalui Masnun, bagian KPUT terminal Kota Kediri, menegaskan bahwa sudah beberapa kali di upayakan pengajuan ke dinas PU (pekerjaan umum), tetapi baru tahun 2014 ini di Acc oleh dinas terkait. “Nanti kalao terminal sebelah selatan sudah selesai di rehab, di lanjut lagi bagian terminal yang sebelas utaranya, kita rehabnya bertahab mas ” Ucap Masnun.

“kalao masalah truck yang parkir di area terminal memang tidak boleh, tetapi dikarenakan yang parkir warga sekitar, dan kita menghindari bentrok dengan warga. Soalnya dulu warga juga yang membantu menguruk badan jalan terminal” Pungkas Masnun.

Dan sewaktu Hapra Indonesia menanyakan kepada Kadishubkominfo, Ferry Djatmiko selama 15 tahun ini kenapa terminal kelampok baru di rehab? Dengan nada bercanda Ferry menjawab, “Mungkin pejabat yang dulu – dulu lebih banyak yang di urusin” Pungkasnya. (B@M

Keterangan Foto: Kondisi Terminal Kelampok dan Kamani penjaga Terminal yang Sedang Membersihkan Pasir Sendirian
 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved