Latest Post

AJI Kediri dan FKWK Mendesak Perusahaan Media Perhatikan Kesejahteraan Pekerja Pers

Written By Hapra Indo on 5/01/2015 | 16:07

Kediri, hapraindonesia.co - Pekerja media juga ikut andil dalam peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei. Pasalnya, pekerja media sering dituntut perusahaan untuk mengedepankan profesionalisme pekerjaan, namun disisi lain pekerja media kesejahteraannya tak pernah diperhatikan oleh perusahaan.

Berlokasi di alun alun kediri Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Kediri & Forum Komunikasi Wartawan Kediri (FKWK) menyuarakan aspiransinya dan meminta semua perusahaan memperhatikan nasib Buruh apapun profesinya, (01/05/15).

Dalam pernyataanya AJI Kediri mendesak perusahaan media memberikan perhatianya pada jurnalis ditengah tambahan kerja dan konvergensi media. Meminta pada pemerintah untuk menetapkan upah sektoral pekerja media, dengan memerhatikan karakteristik industri media, meminta pada perusahaan media akan nasib kontributor,koresponden atau freelance dengan standart kontrak kerja , sehingga dapat memenuhi kebutuhan.

Perhatikan pekerja media dalam hal jaminan sosial tanpa menurunkan fasilitas yang diterim pekerja media. memberikan dukungan pendirian serikat pekerja di semua perusahaan media dan yang terakhir menyerukan pada perusahaan media agar menerapkan sistem pengupahan dan pemberian tunjangan yang setara terhadap jurnalis perempuan. (Ak/B@m).

Keterangan Gambar :  Gabungan Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Kediri & Forum Komunikasi Wartawan Kediri (FKWK) menyuarakan aspiransinya dan meminta semua perusahaan memperhatikan nasib Buruh apapun profesinya, di alun alun Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (01/05/15).

Buruh di Kediri Desak Pemerintah Hapus Tenaga Kontrak / Outsourcing

Kediri, hapraindonesia.co – Dalam Rangka Memperingati hari buruh se dunia yang jatuh pada tanggal 1 Mei atau biasa disebut May Day, puluhan buruh di Kabupaten Kediri melakukan unjuk rasa di depan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab)di jalan raya Soekarno Hatta Kabupaten Kediri.

Dalam aksinya para buruh menuntut pengapusan outsourcing (Tenaga Kontrak). Pasalnya, kebijakan tersebut tidak membantu mensejahterakan para buruh.

Koordinator aksi Taufiq Dwi Kusuma saat ditemui wartawan menuturkan, kebijakan tenaga kontrak dan outsourcing yang di berikan kepada buruh itu tidak memberi kesejahteraan bagi para buruh. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada Pemerintah, kebijakan tersebut yang di lakukan oleh para pengusaha segera di hapuskan.

"Pemerintahkan mengetahui semuannya keluh kesah parah buruh. Seharusnya Pemerintah bisa memberi solusi yang terbaik. Ya pada intinya kami meminta kebijakan tenaga kontrak dan outsourcing di hapus,"tegas Taufiq koordinator unjuk rasa.

Tak hanya itu saja, para buruh juga meminta kepada Pemerintah segera menaikan UMK di Kabupaten Kediri."Di Mojokerto saja UMK Rp 2,7 Juta dan di Kediri cuma Rp 1,3 Juta, kenapa dan ada apa kok bisa tidak sama?,"tanya Taufiq.

Sementara itu, para buruh dari perwakilan KPW Jatim, SBKT PPBI PT KSI, Sepakat Bersatu dan SMI usai melakukan orasi di Pemkab Kediri melanjutkan aksinya ke PT. GG, Tbk, Pemkot Kediri dan Alun - Alun Kota Kediri.(Dt/B@m)

Keterangan gambar : Foto puluhan buruh yang berdemo di depan kantor pemkab kediri, menuntut pemerintah menghapus Tenaga Kontrak / Outsourcing

Petugas Razia Panti Pijit dan Tempat Kos di Kawasan Kab. Kediri

Kediri, hapraindonesia.co – Gabungan Petugas Polres Kediri bersama Satpol PP Kabupaten Kediri,Rabu (29/4) pagi melakukan razia di sejumlah panti pijat dan tempat kos di wilayah Kecamatan Pare, kabupaten kediri. Razia ini dilakukan dalam rangka mengurangi penyakit masyarakat.

Razia gabungan yang di lakukan dua instansi tersebut, dimulai pukul 09.00 Wib sampai pukul 11.30 Wib. Dalam melakukan razia tersebut para petugas tidak mendapatkan pasangan selingkuh atau mesum.

“Saat kita lakukan razia mulai dari Panti Pijat di Desa Bendo Kecamatan Pare dan rumah kos di Kampung Inggris Desa Tulungrejo Kecamatan Pare kami tidak menemukan pasangan mesum, “tutur Kasat Sabhara Polres Kediri AKP Mahyudi.

Para petugas ini saat melakukan razia di lokasi juga melakukan pemeriksaan KTP bagi pendatang baru yang bertampat di kos-kosan. Pemeriksaan tersebut sengaja di lakukan untuk memastikan data KTP sesuai yang tercatat.

“Para penghuni kos kita periksa KTP nya masing-masing. Ditempat kos kami saat kami melakukan razia tidak menemukan barang yang membahayakan,”terang Mahyudi.(Dt/B@m)

Keterangan Gambar : Foto gabungan petugas Polres Kediri bersama dengan Satpol PP kab Kediri yang sedang melakukan razia di salah satu panti pijit yang berada di kawasan Kabupaten Kediri

Selain Digugat di PN, Walikota dan Kasatpol PP Kota Kediri Juga Dilaporkan ke Polisi

Written By Hapra Indo on 4/30/2015 | 13:32

Kediri, hapraindonesia.co - Selain menggugat di Pengadilan Negeri(PN) Kota Kediri senilai 10 Milyar, Tjujut Suliyatno, pemilik usaha rumah Pijat Bunga Bali yang merasa dipermalukan karena pekerjanya di usir dari tempat usahanya dan tempat usahanya di gembok lalu di rantai oleh Satpol PP Kota Kediri juga melaporkan Kasatpol PP Kota Kediri Ali Muklis dan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, SE ke pihak kepolisian.

Wali Kota dan Kasatpol PP Kota Kediri dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik. Tjujut mengatakan bahwa Walikota kediri dan juga kepala Satpol PP, telah mempermalukan dirinya di khalayak umum.

“Saya malu mas di depan teman sesama advokat, semua orang, tetangga dan juga klien saya atas pencemaran nama baik yang mengatakan bahwa tempat usaha saya yang notabene hanya memijat capek-capek dikatakan sarang prostitusi terselubung dan sudah saya laporkan ke Polresta Kediri terkait pencemaran nama baik dan bukti laporanya juga ada tertera tanggal 9 april 2015 lalu,” kata Tjujut dengan nada geram.

Ia membantah bila bisnisnya dikatakan sebagai sarang prostitusi lantaran kamar memijat tidak terkunci dan hanya memakai kelambu. Sehingga tak masuk akal untuk dijadikan lokasi prostitusi.

“Makanya saya sendiri juga bingung dengan Satpol PP yang dengan aroganya menutup serta merantai tempat usaha saya. Tempat usaha saya kan bukan aset pemkot namun rumah saya pribadi kenapa dirantai dan digembok. Sedangkan lingkungan sekitar tempat usaha saya juga tidak ada yg mempermasalahkan, namun kenapa pihak Pemkot melakukan penyegelan,” ujarnya kesal.

Masih dikatakan Tjujut, kalaupun bicara masalah ijin, pihaknya memastikan sudah lengkap bahkan terdaftar di Pengadilan Negeri Kota Kediri.

“Kalau bicara masalah Ijin kesehatan lha wong kita melayani orang capek dan bukan memberikan kesehatan pada orang sakit. Ibaratnya mas pabrik rokok dengan penjual rokok dijalan itu lain dan berbeda” ketus Tjujut yang menantang Walikota agar mau hadir dalam persidangan nanti.

Tjujut juga menambahkan apabila walikota tidak hadir saya tidak mau dilakukan sidang walauupun pihak walikota ada penasehat dan wakilnya.

Terpisah saat dikonfirmasikan pada Kepala satpol PP Ali muklis tidak pernah memberikan tanggapan terkait laporan tersebut. Namun pihak pemkot kediri melalui Kabag Humas Apip Permana mengatakan bahwa Pemerintah akan melakukan dan menanggapi dengan hukum yang ada.

“Kita akan memakai sesuai hukum yang ada kalaupun pihak pemilik panti pijat tidak terima terkait dengan penutupannya,” kata Apip saat ditemui wartawan. (Ak/B@m)

Keterangan Gambar : Tjujut Suliyatno, yang mepalorkan Wali Kota dan Kasatpol PP kota Kediri atas tuduhan pencemaran nama baik


Apes : Teriaki Polisi, Dua Pelajar SMK Tabrak Pagar Rumah Warga

Written By Hapra Indo on 4/29/2015 | 19:03

Kediri, hapraindonesia.co - Ada-ada saja ulah dua pelajar SMK ini yakni AD, (17), dan HT, (17), warga Dusun Gempolan, Desa Baye, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri ini. Kedua pelajar ini malah meneriaki Polisi yang hendak menyebrang saat melakukan Patroli, Rabu (29/4).

Apesnya, kedua pelajar yang masih duduk kelas 1 SMA salah satu Kabupaten Kediri saat di kejar Polisi ketakutan dan menabrak pagar.

Kasi Humas Polsek Pagu Aiptu Herry KS menuturkan, awalnya dia bersama anggota Polsek Pagu melakukan kegiatan Patroli rutin ke Desa di wilayah Pagu. Saat melintas di simpang empat Desa Tanjung hendak belok ke kiri berhenti.

Tak disangka, dari arah arah selatan menuju ke utara tiba-tiba sebuah sepeda motor pretelan tanpa di lengkapi lampu dan klakson yang di kendarai AD dan HT tanpa memakai Helm menerakinya.

“Saya berhenti sebelum belok ke kiri menuju ke arah utara. Tiba-tiba dua pelajar ini berteriak Hooeeey sangat keras. Kami buntuti dari belakang dia mengendarai sepeda motornya menabrak pagar milik warga Desa Menang. Dan setelah itu dia kabur lagi,”tutur Aiptu Herry KS.

Saking takutnya, akhirnya kedua pelajar ini berhenti di jalan umum Desa Sitimerto, Kecamatan Pagu, berhenti dan menyerahkan diri. Kedua pelajar yang seharusnya memberi contoh yang baik akhirnya dibawa ke Polsek Pagu untuk dimintai keterangan.

“Kami lakukan pembinaan dan orang tuanya kami panggil. Sementera itu, sepeda motornya kami amankan dulu dan bisa diambil kalau sudah dilengkapi. Sengaja kami lakukan untuk memberi pelajaran dan agar tidak diulanginya lagi,”terang Kasi Humas.

Sementara itu, kedua pelajar ini saat ditemui di Polsek Pagu hanya bisa tertunduk malu dan mengakui kesalahan yang dia perbuat.”Saya menyesal Pak, saya tidak akan mengulangi lagi,”cetus AD dengan nada melas.(Dt/B@m)

Wali Kota dan Kasatpol PP Kota Kediri digugat Pengusaha panti pijat Rp10 miliar

Kediri, hapraindonesia.co - Tjujut Suliyatno. SH seorang Advokat yang juga memiliki usaha rumah panti pijat (pijat untuk capek-capek) Bunga Bali Spa melayangkan gugatan kepada Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Kediri Ali Muklis dan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, SE ke Pengadilan Negeri Kota Kediri, Rabu (29/4/2015).

Dalam keterangannya Tjujut akan melawan walikota karena menutup tempat usahanya yang sudah berijin yang berada di Jalan Suparjan Mangun Wijayan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

“Saya akan lawan Wali Kota Abu bakar karena menutup tempat usaha saya yang katanya tidak berijin. Mari kita buktikan di pengadilan,” tantang Tjujut saat berada di ruangan panitera PN Kota Kediri.

Sementara itu Udin Mahyudin Wakil Panitera PN Kota Kediri, membenarkan adanya gugatan yang dilayangkan Tjujut. Ada dua yang digugat oleh pemohon yaitu Kepala Satpol PP dan juga Wali Kota Kediri. “Dan pihak penggugat menggugat walikota sebesar Rp10 milyar, ” kata Udin.

Lebih lanjut Udin menerangkan, kemungkinan akan dilakukan sidang pada 10 hari kedepan. Dalam gugatanya Tjujut telah mempunyai ijin untuk mendirikan panti pijat capek-capek sejak tahun 2010 . Dan karena dianggap tidak berijin dan dirugikan secara inmateril dan juga materil, pihak penggugat akhirnya meminta kerugian sebesar Rp10 miliar. (Ak/B@m)

Keterangan Gambar :  Foto Tjujut Suliyatno menunjukkan surat gugatanya kepada awak media, di kantor Pengadilan Negeri Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (29/4/2015).

Terbukti Simpan 300 butir Pil Koplo, Pemuda 20 Tahun di Ringkus Polisi

Written By Hapra Indo on 4/28/2015 | 21:39

Kediri, hapraindonesia.co - Ahmad Saefudin alias Grandong, 20, warga Dusun Banjarejo, Desa Besuk, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Senin (27/4) kemarin sekitar pukul 14.30 Wib, diringkus anggota buser Polsek Gurah, di rumahnya. Dari tangan pelaku pengedar narkobai ini petugas menemukan 300 butir narkoba jenis pil doeble l.

Informasi yang dihimpun, penangkapan pelaku pengedar pil koplo ini bermula dari hasil penyelidikan petugas. Saat petugas mengetahui pelaku berada di rumah, petugas langsung melakukan penggerebekan.

Alhasil, saat dilakukan penggeledahan petugas menemukan 150 butir pil koplo di saku jaket milik pelaku dan 150 butir pil koplo di simpan di lemari pakaian. Pelaku yang tak berkutik, akhirnya di ringkus.

Pelaku saat di temui di Polsek Gurah mengatakan, hasil mengedarkan narkoba yang di jual ke anak Punk dan temannya itu untuk foya-foya di lokasasi. Tak hanya itu saja,terkadang dia juga mengajak purel untuk pesta narkoba.

"Saya jual pil itu 80 butir harganya Rp 80 ribu. Kalau habis seribu butir saya mendapat untung Rp 450 ribu. Ya lumayan bisa buat foya-foya,"aku pelaku.

Pelaku yang mengaku mendapatkan pil koplo dari S warga Plosoklaten 1000 butir dengan harga Rp 350 ribu. Selain menjadi pengedar dia setiap hari juga mengkonsumsi narkoba.

"Saya mulai kenal narkoba sejak kelas 1 SMP dan jadi pengedar belum ada 4 bulan,"jelas pelaku yang lulus SMP.

Sementara itu, Kapolsek Gurah AKP Totok BH melalui Kasi Humas Aiptu Sriatik menuturkan, kasus penangkapan pelaku pengedar narkoba saat ini di limpahkan ke Satreskoba Polres Kediri."Pelaku kita limpahkan ke Satreskoba Polres Kediri guna penyidikan lebih lanjut,"tutur Aiptu Sriatik.(Dt/B@m)

Keterangan Gambar : Pelaku pengedar narkoba menunjukan barang buktinya di hadapan petugas.
 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved