Latest Post

Hadir Dalam Jalan Sehat Bersama TNI dan Polri, Mas Abu Ingatkan Perkokoh Persatuan

Written By Hapra Indonesia on 12/16/2018 | 20:25

Foto: Istimewa
Kediri, hapraindonesia.co - Dihadapan ratusan peserta jalan sehat dan senam bersama Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar menyampaikan bahwa menurut data BPS menunjukkan perekonomian Kota Kediri meningkat, pendidikan juga baik, serta tingkat kemiskinan maupun pengangguran menurun.

Hal ini berarti kondisi Kota Kediri sangat baik. Keadaan seperti ini dapat terjadi jika dikondisikan dan pertanyaannya siapa yang mengkondisikan, jawabannya adalah kita semua baik pemerintah daerah, polisi, TNI maupun masyarakat Kota Kediri, Minggu (16/12).

Dalam acara ini Walikota Kediri, Dandim 0809 dan Kapolresta Kediri memberangkatkan jalan sehat yang kemudian dilanjutkan dengan senam bersama di Makodim 0809 Kediri. Jalan Sehat dan Senam Bersama ini bertemakan memperkokoh Sinergitas TNI Polri sebagai pondasi yang kuat untuk menjaga kamtibmas di Kota Kediri yang Kondusif.

Mas Abu juga menyampaikan Kota Kediri merupakan sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 350 ribu jiwa, namun setiap hari banyak orang datang ke Kota Kediri untuk berniaga, bermain atau menempuh pendidikan sekitar 2-2,5 juta jiwa sehingga jalan padat namun tidak macet hanya beberapa titik yang macet. “Artinya ekonomi di Kota Kediri sangat maju. Banyak orang yang berjualan di Kota Kediri seperti jual nasi pecel, es tebu, dan jual pulsa laku,” ujar Mas Abu.

Lebih lanjut orang nomor satu di Kota Kediri juga mengucapkan terimakasih kepada TNI, Polri karena telah bersinergi dengan baik. Oleh karena itu, harus terus menjaga sinergitas ini karena objek yang dijaga adalah sama yaitu masyarakat Kota Kediri. “Pesan saya, jangan sampai kita terpecah belah, dan jangan sampai kita gagal fokus terhadap perkembangan yang ada di daerah karena Kota Kediri ini adalah milik kita bersama dan bukan hanya milik pemerintah saja,” ujar Walikota Kediri.

Sementara itu Dandim 0809 menuturkan bahwa acara ini bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Kota Kediri ini adalah Kota yang aman, tentram dan damai tidak ada permasalahan-permasalahan. Sinergitas TNI, Polri dan pemerintah merupakan harga mati, mutlak dan harus dijaga bersama-sama.

“Tidak ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan, bersama saya, bapak kapolres, dan bapak walikota memiliki komitmen semua permasalahan yang ada di Kediri ini bisa kita selesaikan secara baik, dan secara komunikasi yang positif,” ujar Letkol Kav Dwi Agung Sutrisno.

Kapolresta Kediri juga menyampaikan bahwa keamanan merupakan hal utama dalam pembangunan nasional, tanpa adanya keamanan pembangunan nasional tidak akan tercapai dengan baik. Hal ini berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. “Jika masyarakat sejahtera, TNI, polri dan pemerintah akan senang,” ujar AKBP Anthon Haryadi.

Perlu diketahui, untuk rute jalan sehat ini yaitu start di Makodim 0809 ke selatan – torn ke barat – simpang empat Jl Adi Sucipto ke utara – simpang empat Ngadisimo ke timur dan finish di Makodim 0809. Dan untuk jarak tempuhnya ± 4-5 km. Jalan sehat dan senam bersama ini juga disediakan macam-macam hadiah yaitu sepeda gunung, kulkas, TV 21”, kompor gas, magicom, berbagai dorprize menarik dan hadiah utamanya sepeda motor. Untuk hadiah utama didapatkan oleh karyawan Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kediri.

Dalam acara ini juga ada penyerahan cinderamata dari Kapolresta Kediri kepada Walikota Kediri. Selain itu juga penyematan jaket dari Dandim 0809 Letkol Kav Dwi Agung Sutrisno kepada Walikota Kediri.

Hadir dalam acara ini Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi, Dandim 0809 Letkol Kav Dwi Agung Sutrisno, dan jajaran TNI, Polri, Pemerintah Kota Kediri.

(Adv/Hms)

Walikota Kediri Mengajak Orang Tua Anak, Mendidik Dengan Baik dan Tegas

Foto: Istimewa
Kediri, hapraindonesia.co - Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar pagi ini hadir dan membuka secara langsung Festival Anak Kelurahan Kampung Dalem di gedung belakang kelurahan, minggu (16/12). Mas Abu, sapaan akrab Walikota Kediri ini merasa senang bisa hadir bersama Forum Anak dan bertemu dengan anak-anak yang punya harapan besar membawa Kota Kediri yang semakin baik lagi kedepannya.

"Saya berharap gol akhir dari anak-anak yang ada di Kota Kediri ini harus lebih hebat daripada kita. Kita hanya mengarahkan agar mereka tidak tersasar, kalaupun tersasar harus ke arah yang benar," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mas Abu kurang berkenan jika anak-anak diberikan smartphone. Baginya, smartphone ini diciptakan untuk orang yang sudah bekerja, jangan sampai anak-anak salah jalur karena terlalu asyik bermain smartphone.

Disampaikannya juga yang bagus untuk anak-anak adalah bagaimana mereka bisa bersosialisasi dengan baik.

"Di zaman globalisasi ini jarang ada orang yang bersilaturahmi, silatirahminya ya lewat sosial media saja. Lebih baik kan anak-anak kita ini dibiasakan untuk bersosialisasi lewat bermain. Misalnya sepakbola, bersepeda dan yang lainnya. Mereka bisa ketemu dengan orang-orang sehingga mereka bisa berkembang, sudut pandang mereka menjadi lebih luas sekali. Kalau pandangannya luas, mereka akan mencari peluang-peluang usaha dan insyaAllah nanti rezekinya juga akan banyak. Itu sudah janji Tuhan," ujarnya.

Oleh karenanya, Mas Abu mengajak seluruh orangtua untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

"Kalau mereka bilang pengen bertani, yaudah bimbing saja. Siapa tahu nanti mereka bisa bikin pabrik pupuk. Sekarang ini sebenarnya anak-anak kita sudah mulai bijak dalam mengambil keputusan, hanya saja perlu kita arahkan saja. Kita butuh anak-anak yang bermental baja. Kalau orang dulu bilangnya kalau pengen sakti harus dimasukkan ke kawah candradimuka. Mereka harus ditempa biar tidak lembek, jiwa kompetitif mereka juga harus dimunculkan dengan diikutkan lomba," ujarnya.

Mas Abu juga meminta seluruh orangtua untuk mengarahkan anak dengan baik dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar.

Dalam acara Festival Anak ini, Mas Abu sempat bermain catur dengan Gelfan, siswa kelas 4 dari SDN Kampung Dalem. Hanya dalam hitungan beberapa langkah, Mas Abu harus mengakui kehebatan Gelfan dalam bermain catur.

"Dengan bermain seperti ini mereka bisa saling berinteraksi dengan teman-temannya. Ini baik untuk perkembangan mereka kedepannya," ujarnya.

Beberapa simbolis mainan motorik juga diberikan Mas Abu kepada Ketua RW. Selain itu ada juga pemberian hadiah sepeda untuk lomba shalat shubuh berjamaah dari bulan Ramadhan hingga oktober lalu. Hadiah ini diberikan agar bisa meningkatkan semangat anak-anak dalam beribadah dan meningkatkan akhlaq yang baik.

(Adv/Hms)

Ning Lik: FKUB Kota Kediri Luar Biasa, Karena Menjadi Teladan Bagi FKUB di Kota/Kabupaten Lain

Foto: Istimewa
Kediri, hapraindonesia.co - Wakil Walikota Kediri Lilik Muhibbah membuka Musyawarah Daerah (Musda) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Sabtu (15/12) bertempat di Ruang Joyoboyo Balaikota Kediri. Dalam Musda ini akan dipilih Ketua FKUB masa bhakti 2019-2024.

Dalam sambutannya, Lilik Muhibbah mengatakan FKUB di Kota Kediri luar biasa karena bisa menjadi teladan bagi FKUB di kota/kabupaten lainnya.

"Banyak daerah yang ingin melakukan study banding untuk sharing dengan FKUB Kota Kediri," ujarnya.

Wanita yang akrab dengan sapaan Ning Lik ini mengungkapkan bila kunci kesuksesan FKUB dan PAUB-PK Kota Kediri dalam menjaga kondusifitas di Kota Kediri adalah kekompakan, kerjasama serta keikhlasan.

Foto: Istimewa
"Alhamdulillah FKUB dan Pemerintah Kota Kediri selalu bisa menjaga kondusifitas di Kota Kediri ditengah banyaknya gejolak yang terjadi di daerah lain. Saya berharap kekompakan, kerjasama dan keikhlasan terus kita bangun karena itu adalah kunci kesuksesan," ungkapnya.

Ning Lik juga mengungkapkan apresiasinya karena FKUB dan PAUB-PK ikut menyukseskan serta ikut mengawasi pembangunan yang ada di Kota Kediri.

Terakhir, Ning Lik berpesan siapapun nantinya yang terpilih sebagai ketua FKUB dalam Musda ini akan menjadikan FKUB semakin lebih baik lagi untuk Kota Kediri yang lebih maju.

Hadir dalam Musda malam ini Kepala Bagian Administrasi Kesra Pemerintah Kota Kediri Ardi Handoko, Ketua FKUB Kota Kediri Makruf Anam, pengurus FKUB, dan perwakilan akademisi.

(Adv/Hms)

Walikota Kediri: Tepat Bayar Pajak, Pembangunan Terlaksana Dengan Cepat

Written By Hapra Indonesia on 12/15/2018 | 18:15

Foto: Istimewa
Kediri, hapraindonesia.co - Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Kota Kediri karena memiliki tanggung jawab dalam membangun Kota Kediri dengan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Hasil dari membayar PBB pun telah dirasakan oleh masyarakat dengan peningkatan pembangunan yang ada di Kota Kediri.

"Alhamdulillah masyarakat bisa merasakan melalui fasilitas-fasilitas publik yang ada," ujar Abdullah Abu Bakar dalam acara Gebyar Undian Lunas PBB, Sabtu (15/12) bertempat di IKCC Kediri.

Pria yang akrab disapa Mas Abu ini menuturkan setiap tahunnya PBB yang diterima oleh Pemerintah Kota Kediri kurang lebih 24 miliar. Masyarakat dapat menikmati hasil dari membayar pajak lebih besar lagi yakni 75 miliar melalui Program Pemberdayaan Masyarakat. Melalui program ini sarana dan prasarana di Kota Kediri juga lumayan bagus.

"Saya sering turun ke kelurahan-kelurahan ngobrol dengan masyarakat dalam acara Kopi Tahu. Jadi kita diskusi apa saja yang harus segera kita perbaiki," jelasnya.

Pada kesempatan ini Mas Abu menceritakan perkembangan yang ada di Kota Kediri dan mengajak seluruh masyarakat untuk mempersiapkan sumber daya manusia di Kota Kediri.

"Di Kediri ini semakin ramai dan berkembang. Kedepan akan ada airport dan exit tol. Kita harus ambil peluangnya dengan mempersiapkan SDM di Kota Kediri," pungkasnya.

Walikota muda berusia 38 tahun ini berpesan kepada masyarakat agar tepat waktu dalam membayar PBB sehingga pembangunan pun terlaksana dengan cepat.

Adapun Kepala BPPKAD Kota Kediri Bagus Alit mengatakan undian lunas PBB ini dilakukan secara elektronik.

"Kita undi secara elektronik. Nanti di layar akan keluar NOP dari wajib pajak. Undian ini berhak diikuti oleh wajib pajak yang melunasi PBB nya sampai tanggal 14 Desember," ujarnya.

Sementara untuk meningkatkan PBB dari masyarakat BPPKAD telah melakukan beberapa upaya seperti sosialisasi, menggelar bulan panutan PBB, pembayaran PBB di kelurahan, melakukan pelayanan pembayaran PBB melalui mobil keliling, serta penagihan langsung pada wajib pajak.

Pemenang dalam Gebyar Undian PBB 2018 ini adalah Sri Hartini yang beruntung mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Sigra. Untuk hadiah 3 motor Honda Beat diraih oleh Sri Wahyuni, Soekini dan Abdul Aziz Sholeh.

Hadir dalam kegiatan ini Wakil Walikota Kediri Lilik Muhibbah, Kepala OPD dilingkungan Pemerintah Kota Kediri, camat, lurah perwakilan dari Bank Jatim dan BNI 46 serta wajib pajak yang telah melunasi PBB.

(Adv/Hms)

Puluhan Busana Karya Fashion Desainer Nasional dan Lokal Meriahkan "The 4th Dhoho Street Fashion"

Written By Hapra Indonesia on 12/13/2018 | 20:31

Foto: Dok/HI
Kediri, hapraindonesi.co - Puluhan karya perancang busana Nasional dan Lokal ikut ambil bagian dalam 4th Dhoho Street Fashion "Warisan Agung Panji Sekartaji" yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) Kota Kediri, di Taman Sekartaji, Kamis (13/12/2018) Pagi.

Pertunjukan busana ini digelar untuk mempromosikan serta melestarikan wastra yakni Tenun Ikat Bandar dan Batik Khas Kediri. Agar tenun ikat dan batik khas Kediri selalu ada di hati dan dicintai masyarakat.

Desainer Nasional seperti Didiet Maulana dan Lenny Agustin menampilkan beberapa karyanya yang berbahan tenun ikat bandar dan batik khas Kediri. Selain itu adapula karya dari desainer lokal seperti Desty Rachmaning Caesar, Ahmad Khosim, Numansa Batik dan siswa SMKN 3 Kediri yang juga ikut mempersembahkan karyanya dari bahan tenun ikat bandar dan batik khas Kediri. Tak hanya SMK yang dilibatkan, Kediri Creative City Forum (KCCF) juga turut memberikan dukungan penuh. Forum yang mewadahi karya kreatif Kota Kediri ini tampil dalam showcase untuk menarasikan sejarah tenun ikat Kediri.

Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar mengungkapkan Dhoho Street Fashion ini sudah diselenggarakan empat kali. Setiap tahun mengusung tema yang berbeda, pada tahun ini mengangkat tema Warisan Agung Panji Sekartaji. Seperti diketahui epos cerita Panji ini salah satunya ada di Kota Kediri.

Kita angkat tema ini karena memiliki filosofi yang sangat tinggi. Hal ini juga sebagai pengingat bahwa kisah Panji ini diakui oleh UNESCO," ujar Bunda Fey, sapaan akrabnya.

"Di tahun keempat pelaksanaan Dhoho Street Fashion, Bunda Fey mengatakan bila karya-karya nya semakin beragam. Seperti karya-karya desainer lokal yang sudah mengarah ke busana siap pakai. Desainer lokal sudah membuat karya ke baju yang ready to wear. Sehingga bisa digunakan ke berbagai cara. Saya rasa karya-karyanya semakin oke," jelasnya.

Bunda Fey juga optimis terhadap perkembangan tenun ikat dan batik khas Kota Kediri. Menurutnya, saat pengrajin tenun ikat maupun batik khas Kota Kediri mengikuti pameran produknya selalu diminati oleh pasar. Hal ini dikarenakan tenun ikat yang dimiliki Kota Kediri harganya bersaing dan memiliki keunggulan pada rapatan benangnya. Batik Kota Kediri juga memiliki pasar tersendiri. Apalagi saat ini pengrajin batik di Kota Kediri juga semakin banyak, bahkan hampir disetiap kelurahan di Kota Kediri memiliki kerajinan batik.

Wanita yang juga menjabat sebagai TP.PKK Kota Kediri ini menyadari bila tidak mudah dalam mengembangkan bisnis tenun ikat ataupun batik. Tidak hanya fashionnya saja namun juga haru mengembangkan brand yang kuat. Untuk itu Dekranasda Kota Kediri dan Pemkot Kota Kediri memiliki beberapa program untuk terus memajukan usaha tenun ikat serta batik khas Kota Kediri.

"Ini bukan hanya tentang memproduksi karya namun bagaimana karya ini memiliki value yang memikat hati masyarakat", pungkasnya.

Usai peragaan busana, salah satu Warisan Agung Panji Sekartaji dirinya menampilkan 24 karyanya yang bertema Katresnan yang terinspirasi dari kisah percintaan Panji dan Sekartaji dan dari siluet-siluet wayang.

"Itulah kenapa tadi rancangan-rancangan busana saya banyak memakai unsur tumpuk-tumpuk dibawah. Karena busana wayang biasanya tumpuk-tumpuk dibawah dan tadi juga banyak menggunakan hiasan. Saya berusaha menampilkan transkrip-transkrip yang ada di cerita Panji Sekartaji," ungkapnya.

Peragaan Busana ini dihadiri oleh Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, Wakil Walikota Kediri Lilik Muhibbah, Generasi Pertama Tenun Ikat Latif Suwignyo, Forkopimda Kota Kediri, Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota Di Wilayah Eks-Karesidenan Kediri, perwakilan perbankan, dan perwakilan organisasi wanita di Kota Kediri.

(Adv/Hms/*)

Peresmian PSBI Kampung Organik Brenjonk

Foto: Istimewa
Mojokerto, hapraindonesia.co - Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) Kampung Organik Brenjonk, kerjasama antara Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Kabupaten Mojokerto bersama Bank Indonesia, diresmikan Wakil Bupati Mojokerto, Pungkasiadi, Kamis (13/12) pagi.

PSBI merupakan bentuk kepedulian atau empati sosial Bank Indonesia untuk berkontribusi, dalam membantu memecahkan masalah sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Berkonsep eco edukasi plus, Kampung Organik Brenjonk berdiri dengan tujuan mendidik masyarakat umum dengan fokus membangun kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan, aman dan sehat untuk keluarga. Disamping itu Kampung Organik Brenjonk berkomitmen untuk terus peduli terhadap pelestarian alam dan ekonomi kreatif.

Wakil bupati Pungkasiadi dalam sambutannya mengatakan bahwa, Pemerintah Kabupaten Mojokerto memiliki program prioritas pembangunan dimana salah satunya ada pada sektor wisata. Dirinya menyebut bahwa pariwisata kini menjelma sebagai sebuah kebutuhan di masyarakat.

“Pariwisata termasuk salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Sebab pariwisata saat ini merupakan kebutuhan masyarakat. Pengembangan Kampung Organik Brenjonk juga telah ditetapkan dalam Keputusan Bupati Mojokerto Nomor 188.45/332/HK/416-012/2018. Kami juga sedang menyusun masterplan pengembangan kawasan ini, sebagai dasar perencanaan pembangunan tahun-tahun mendatang,” terang wabup.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng, berpandangan bahwa gaya hidup sehat sangat digandurungi masyarakat khususnya masyarakat urban segmen menengah ke atas. Contoh kecil yang bisa dilihat adalah pola konsumi dari makanan cepat saji, beralih ke produk-produk pangan organik.

“Golongan masyarakat menengah ke atas terus tumbuh. Salah satunya apa? Harga pangan organik cenderung mahal, namun sangat laris dan banyak diburu. Mereka (masyarakat menengah ke atas) menghindari makanan cepat saji dan beralih pada konsumsi organik. Adanya Kampung Organik Brenjonk, tentu diharapkan dapat masuk dalam kesempatan tersebut. Namun harus didukung dengan branding yang tepat dan digital ekonomi yang pas (pemasaran dan promo online dengan website),” kata Sugeng.

Wakil bupati bersama Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo, Wakil Ketua TP PKK Yayuk Pungkasiadi, serta OPD terkait, juga berkesempatan mengunjungi beberapa paket-paket menarik eduwisata Kampung Organik Brenjonk seperti tumbuk padi organik, kemas sayur organik, dan laboratorium.

(Adv/T@urus)

"The 4th Dhoho Street Fashion", Angkat Kisah Panji dan Sekartaji

Foto: Dok/HI
Kediri, hapraindonesia.co - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kediri kembali akan menggelar Dhoho Fashion Street 2018 pada Kamis 13 Desember 2018 hari ini di Taman Sekartaji, Kota Kediri. Event yang digelar setiap tahun dengan konsep fashion show di area terbuka ini sudah berlangsung sejak 2015.

Tahun 2018 ini tema yang diusung adalah "The 4th Dhoho Street Fashion" (Warisan Agung Panji Sekartaji). Panji Sekartaji merupakan sebuah epos yang lahir pada masa kejayaan Kerajaan Kediri dengan ibu kota Dhaha (yang kini diambil menjadi nama jalan di pusat Kota Kediri, yaitu Jalan Dhoho). Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji merupakan dua tokoh sentral dalam fase tersebut.

Sebagai legenda, kisah ini cukup mengakar di masyarakat Kediri yang digambarkan dalam seni tari jaranan. Pada 31 Oktober 2017 kisah Panji ditetapkan secara resmi oleh UNESCO sebagai Memory of the World (MOW).

Sedangkan tradisi Panji secara historis dikisahkan oleh relief di beberapa candi di Jawa Timur. Antara lain Candi Penataran di Kabupaten Blitar dan Candi Tegowangi di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, sebagai figur bertopi.

Lydia Kieven, peneliti berkebangsaan Jerman, telah melakukan penelusuran tradisi Panji dan kemudian dipublikasikan melalui dua buku. Yaitu Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit pada tahun 2013 dan buku Menelusuri Panji dan Sekartaji Bertopi pada tahun 2018.

Kisah Panji dan Sekartaji inilah yang menginspirasi outfit yang ditampilkan di runway pada Kamis 13 Desember 2018 hari ini di area Taman Sekartaji Kota Kediri. Dua fashion designer nasional, yakni Lenny Agustin dan Didit Maulana, menafsirkan kisah tersebut melalui busana-busana rancangannya.

Lenny Agustin akan menampilkan busana berbahan batik karya perajin asal Kota Kediri. Sementara Didit Maulana mempresentasikan busana berbahan dasar tenun ikat khas Kota Kediri. Sejumlah 24 outfit dari masing-masing desainer tampil pada fashion show kali ini.

"Kehadiran desainer nasional ini kami harap mampu mengangkat tenun dan batik khas Kediri semakin dikenal. Selain itu, untuk semakin mendorong desainer Kota Kediri membuat karya lebih bagus dan bernilai jual" kata Ferry Silviana Abu Bakar, ketua Dekranasda Kota Kediri.

Menurut Bunda Fey, sapaan akrabnya, para desainer Kota Kediri sebelumnya sudah mendapat bimbingan langsung dari Didiet Maulana dan Lenny Agustin dalam mendesain busana yang akan ditampilkan pada gelaran akbar ini.

Dalam event ini, desainer muda asal Kediri Desty Rachmaning Caesar akan menampilkan 4 outfit dengan desain kasual. Sedangkan Ahmad Kosim menampilkan 4 outfit busana batik. Mereka menerjemahkan tema dengan menampilkan corak sekar teratai mekar sekar jagad Kota Kediri dan batik abstrak. Masih dengan batik romansa, disajikan motif Panji Laras Galuh Candra Kirana dan keong mas dalam 3 outfit sarimbit.

Bukan hanya desainer profesional yang tampil dalam event ini. SMK Negeri 3 Kota Kediri juga turut andil menampilkan karya karya para peserta didik jurusan tata busana. Sebelumnya para siswa-siswi sekolah ini juga sudah mendapatkan bimbingan dari para desainer.

"Para siswa siswi yang mengambil jurusan tata busana ini sengaja kami dilibatkan dengan maksud untuk mencari bakat muda agar ke depan mampu membawa batik dan tenun ikat menjadi karya yang lebih semakin bernilai," ucap Bunda Fey.

Tidak hanya para desainer. Gelaran The 4th Dhoho Street Fashion kali ini juga menggandeng Kediri Creative City Forum (KKCF) yang turut andil memberikan dukungan. Forum yang mewadahi karya kreatif di Kota Kediri ini tampil dalam showcase untuk menarasikan sejarah tenun ikat Kediri.

"idenya adalah untuk memberi informasi kepada masyarakat dan pengunjung bahwa tenun bukan sekadar kain, tetapi juga nilai" kata Abdul hakim Bafaqih selaku direktur KKCF.

Selembar kain yang menarasikan kisah dari motif-motifnya yang dikerjakan dengan ATBM (alat tenun bukan mesin). Kerja tangan yang layak dihargai bukan hanya karena empati, tetapi juga karena kualitas yang disodorkan.

(Adv/Hms*)
 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved