Home » » Waspada Pembobol Akun Polda Jatim Intai Gerakan Hacker

Waspada Pembobol Akun Polda Jatim Intai Gerakan Hacker

Written By Hapra Indonesia on 5/23/2013 | 21:29

Surabaya, HAPRA Indonesia - Perang dunia keempat berada dalam dunia digital,,pemerintah Indonesia tidak perlu antipati terhadap komunitas peretas sistem jaringan internet (hacker). Pertumbuhan peretas di Indonesia perlu dimanfaatkan dengan merangkul mereka menghadapi persaingan global.
Memetik buah sebuah kasus Peretasan (pembobolan situs) milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Telah digelar di Pengadilan Negeri Jember, Jawa Timur, Rabu (8/5/2013) yang baru lalu, pelaku bernama Wildan Yani Ashari.

Dalam persidangan tersebut, mendatangkan saksi ahli Aditya Kurniawan, dosen teknik informatika Universitas Bina Nusantara Jakarta dan pelaku dijatuhi sanksi dalam sidang.

Dikatakan oleh Aditya Kurniawan, bahwa Wildan dalam mengenyam pendidikan Ia hanya lulusan sekolah menengah kejuruan biasa dan tak mengenyam ilmu informatika secara formal di bangku perguruan tinggi.

Namun, menurut Aditya Wildan menekuni IT secara otodidak, ia belajar menjadi peretas, dan bikin heboh dengan membobol situs milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono."Wildan ini berbakat tapi iseng.

"Meretas bukan ilmu jahat. Ini ilmu teknologi informasi. Di Indonesia banyak yang jago.

Mereka belum terekspos dengan baik dan banyak yang iseng," kata Aditya tentang tersandungnya masalah Wildal melakukan peretasan situs milik Presiden.

Aditya Kurniawan juga mengungkapkan bahwa pusat pertumbuhan peretas sistem jaringan internet ini terpusat di tiga kota, yakni Jakarta, Bandung, Jogjakarta.

Rata-rata peretas ini adalah anak-anak muda, "Mereka ini kan generasi yang digital.

Mereka tidak bisa hidup tanpa komputer. Mereka cepat belajar, sehingga lebih jago. salah satu contoh adalah Wildan," kata Aditya.

Masih menurur Aditya, pemerintah Indonesia tidak perlu antipati terhadap komunitas peretas sistem jaringan internet (hacker).

Pertumbuhan peretas di Indonesia perlu dimanfaatkan dengan merangkul mereka menghadapi persaingan global. "Begitu menjalankan hukumannya, menurut saya, Wildan sebaiknya dididik oleh negara agar jadi hacker baik," kata Aditya.

Aditya menyarankan pula agar pemerintah mendekati dan mengumpulkan komunitas peretas, untuk mengamankan sistem negara di dunia maya.

"Ini melindungi negara dari serangan negara lain dalam versi digital. Perang dunia keempat berada dalam dunia digital," katanya. Pendekatan bisa dimulai dari kampus ke kampus dan membentuk komunitas peretas resmi.

Sementara itu, Hacker yang selalu mengintip dan menjelajah dunia maya untuk masuk di akun tertentu dengan tujuan meraup keuntungan.

Tidak sedikit akun yag dibobol, akibatnya si pemilik kelabakan untuk memperolehkembali akunya. DiJawa Timur, berdasarkan sumber dari Polda Jawa Timur mentatakan bahwa selama tiga tahu terakhir ini, Cyber Crime atau kejahatan ciber di Jawa Timur terus mengalami peningkatan.

"Memang kejahatan model seperti ini terus mengalami peningkatan hingga sekarang, tahun ini saja hingga bulan April lalu sudah ada 24 perkara cyber," kata AKBP Suhartoyo Kasubid Penmas Polda Jawa Timur.

AKBP Suhartoyo menjelaskan, kejahatan dunia cyber tahun 2013 yakni tindakan yang mengakibatkan system CCTV di sebuah perusahaan tidak bisa bekerja normal, penipuan jual beli online, perjudian online, serta penghinaan dan pencemaran nama baik lewat facebook dan website.

Mengenai maraknya kejahatan ciber, Suhartoyo mengaku, pihaknya terus melakukan pengawasan melaui unit IV Cyber Crime yang berada di bawah Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim.

“Termasuk kejahatan-kejahatan ciber di daerah-daerah di seluruh Jawa Timur juga terus dilakukan pengawasan,” tandasnya "Data di Polda Jatim menyebutkan tahun 2010 ada enam kasus Cyber Crime dengan tiga jenis kejahatan," ujar dia. Enam kasus cyber itu meliputi kasus Hacker yang bermodus mencuri uang lewat e-banking, penipuan jual beli via internet serta penghinaan dan pencemaran nama baik lewat facebook.

Kemudian, lanjut dia, pada 2011 cyber crime meningkat menjadi 38 kasus dengan enam model kejahatan.

Yakni hacker yang mengakses system elektronik kartu kredit, penipuan jual beli via internet, penghiaan dan pencemaran nama baik lewat facebook, penyebaran telanjang, manipulasi data dan dokumen elektronik, serta pemerasan dan pengancaman. “Nah pada 2012, jumlahnya naik lagi jadi 44 kasus.

Rinciannya, kasus penipuan jual beli lewat internet, penyebaran foto telanjang, penghinaan dan penistaan, pengamanan, serta hacker dengan mengakses system elektronik milik perusahaan,” ungkap dia.

Amankan Sandi Dengan Nomor Polsel.

Sadi sebuah akun untuk email, website, facebook dll dalam pengamaan pengguna diminta mengisi pertanyaan dan jawaban rahasia.

Pengisian data tersebut saat ini belumlah cukup untuk mengamankan sebuah akun.

Selain 'menggandeng' atau memiliki akun alternatif (alamat lain), penulisan sandi dalam pengamanan harus menggunakan huruf fariasi misalnya menulis sandi dengan kombinasiseperti 'h4c3r1nd0n3514'.

Meski demikian, untuk lebih super aman tambahkan alamat konfirmasi bila lupa atau sandi bermasalah dengan menggunakan nomor ponsel anda yang tetap dan jangan diganti (permanen).

Sementara itu untuk membuka akun di warnet harus ekstra hati-hati, selain mudah dilihat orang lain(yang merlalu lalang dan bersebelahan) waspada pula adanya kamera tersembunyi dan jangan mencentang simpan ingat sandi.

Selain itu di warnetsebelum menutup atau menyudahi dan akan meninggalkan computer, periksa ulang khususnya hapus data riwayat. (WS)
Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved