Home » » Walikota Kediri Diduga Gunakan Sindikat Calo CPNS Dan Kiat Cari Pesangon Dengan Mutasi Pejabat

Walikota Kediri Diduga Gunakan Sindikat Calo CPNS Dan Kiat Cari Pesangon Dengan Mutasi Pejabat

Written By Hapra Indonesia on 2/14/2014 | 12:51

Drs Sulchan M. Noer, M. Si
Kediri, Hapra Indonesia.co - Setelah kalah berebut simpati masyarakat dalam Pemilihan Walikota Kediri, pola kepemimpinan Walikota Kediri dr. Samsul Ashar , semakin gelap mata bahkan diduga ada kesengajaan desain memporak porandakan stabilitas di lingkungan pemerintah Kota Kediri.

Orientasinya bukan rahasia lagi, mengeruk keuntungan sebesar besarnya di injury time kepemimpinan Walikota dan meninggalkan tatanan semrawut bagi walikota yang akan menggantikannya. Kalangan pemerhati pemerintahan Kota Kediri mensinyalir ada bisnis besar jual beli kursi jabatan yang dilakukan dengan mengadakan beberapa kali mutasi pejabat pasca kalah dalam pertarungan Pilwali 29 Agustus 2013 yang lalu.

Omset dugaan jual beli kursi jabatan itu, bisa mencapai milyaran rupiah sekali putaran. Padahal pasca kalah dalam Pilwali saja, Walikota Samsul Ashar sudah melakukan empat kali putaran Mutasi Pejabat. Seorang pejabat di Pemkot Kediri yang tidak mau di sebut namanya membeberkan,bahwa jaringan sales jabatan di BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Kota Kediri, tidak henti hentinya mencari klien yaitu para pejabat maupun staf yang ingin promosi dengan meminta imbalan puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Kabarnya masih akan dua putaran lagi, mutasi pejabat memanfaatkan sisa masa jabatan Walikota Samsul Ashar yang tinggal beberapa bulan tersebut. Masih kata pejabat tersebut Kediri, Bisnis besar menjual kursi jabatan tersebut operator utama yang ditunjuk Samsul Ashar adalah kepala BKD kota Kediri Eko Budiono SH.MM.

Kebetulan Eko Budiono adalah pejabat yang baru saja dipromosikan oleh Samsul Ashar dari eselon tiga menjadi eselon dua dan langsung menduduki pos jabatan Strategis yaitu kepala BKD. Bukan rahasia lagi Eko Budiono di kenal oleh beberapa kalangan di duga sebagai sindikat besar calo CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di Wilayah Jawa Timur.

Hebatnya lagi masih menurut sumber, Eko Budiono langsung menambah kekuatan timnya di BKD, dengan memasukkan sekian banyak jaringannya yang berprofesi sebagai PNS menduduki jabatan di BKD. Alhasil bisnis besar jual kursi jabatan, berjalan mulus dan menghasilkan beberapa milyar rupiah meskipun banyak melanggar aturan dan kaidah kaidah kepegawaian.

“Tunggu beberapa saat lagi, akan ada bisnis kepegawaian lebih besar lagi bahkan raksasa selain Mutasi, Bisnis raksasa itu memanfaatkan sisa jabatan Walikota Samsul Ashar” Kata sumber tersebut.

Sementara itu Mantan pejabat Pemkot Kediri yang juga pemerhati Pemerintahan Drs.Sulchan M. Noer,M.Si. mengaku prihatin atas sikap Walikota Kediri Samsul Ashar terkait dalam kebijakannya menjalankan mutasi pejabat. Menurutnya Walikota Samsul Ashar sama sekali tidak memakai etika pemerintahan dalam menjalankan amanah masyarakat Kota Kediri. Peraturan perundang undangan tentang kepegawaian, banyak yang diterjang demi keuntungan pribadi.

Mengkaji langkah beberapa kali mutasi pejabat pemkot Kediri yang dilakukan Samsul Ashar, “sangatlah mudah terbaca ia bekerja tanpa memfungsikan Tim Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan), “Lagian apa to fungsi perubahan struktur tersebut bagi pelaksanaan pembangunan kota ini, wong Samsul tidak lagi menjadi user dari pejabat pejabat itu ?”. Kata Sulchan. “Indikasi ada bisnis besar dibalik mutasi-mutasi yang dilakukan Samsul Ashar, sangatlah mudah dibaca” Tambahnya.

“Sehingga pekerjaan rumah yang amat besar nanti akan diterima Walikota baru, dihadapkan pada sekian banyak pejabat Pemkot Kediri karbitan, bermoral korupsi demi mengembalikan modal, bekerja tanpa ada keloyalan kepada masyarakat tapi keroyalan kepada walikota”Katanya geram.

Masih Menurut Sulchan, walikota baru nanti harus berani mengadakan evaluasi massal seluruh pejabatnya, bila perlu mendatangkan tenaga ahli dari kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara.

Sementara itu kepala BKD Kota Kediri Eko Budiono sulit di temui di kantornya,meski mobil dinasnya ada di depan kantor tetapi Eko Budiono tidak ada, saat di hubungi beberapa nomor ponselnya dalam keadaan tidak aktif. (TIM)
Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved