Home » , » Tradisi Lempar Nasi Diyakini Bisa Terhindar Dari Mara Bahaya

Tradisi Lempar Nasi Diyakini Bisa Terhindar Dari Mara Bahaya

Written By Hapra Indonesia on 10/11/2014 | 16:16

Kediri, hapraindonesia.co - Tawuran tidak selamanya bermakna negative, seperti halnya tradisi tawarun lempar nasi yang dilakukan oleh warga Desa Blimbing, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Sabtu (11/10) sore sekitar pukul 13.30 WIB, diyakini bisa terhindar dari marabahaya atau tolak balak. Tradisi itu merupakan tradisi yang sudah lama sejak zaman Belanda.

Sebelum prosesi perang nasi ini dimulai. Warga membawa nasi serta sayuran yang dibungkus dengan daun pisang, di bawa di halaman rumah depan Kades Blimbing Agus Dwi Waluyo. Acara tersebut diawali dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh desa setempat.

Lalu, usai doa bersama, tampak para pemuda, anak-anak dan bahkan orang tua yang khususnya laki-laki ini langsung memulai acara tersebut yakni lempar nasi. Dalam melakukan aksinya, para warga ini perang saling lempar dan membalas lemparan. Tradisi tawuran saling lempar ini warga sangat antusias dan padfa saat melempar tidak boleh marah.

Mujiono, 56, warga setempat. Tradisi lempar nasi ini sudah ada sejak zaman belanda. Menurutnya, tradisi lempar nasi sempat beralih hanya sekedar selamatan biasa, malah membawa malapetaka. “ Sempat dua tahun tradisi lempar nasi ini tidak dilakukan. Dan selama dua tahun ini banyak kejadian yang aneh seperti orang masuk sungai hingga meninggal dunia dan ada yang gantung diri. Sebelumnya ya tidk terjadi apa-apa, “ ungkap Mujiono.

Kades Desa Blimbing, Agus Dwi Waluyo mengatakan, tradisi lempar nasi ini satu acara tradisional yakni tayuban. Dikatakannya, warga yang mengikuti acara ini tidak diharuskan membawa nasi ini yang terlalu mewah seperti membawa nasi gurih serta lauk pauk. “ Setahu saya tradisi ini sudah 10 turunan. Menurut tradisi yang sudah ada, warga membawa nasi putih dan sayur seadanya, “ jelasnya. Sementara itu, Eriska, 19, pemuda setempat menuturkan, saat terkena lemparan tubuhnya merasa sakit.

Meskipun merasakan sakit, namun dia tetap asyik melakukan ritual tersebut dengan membalas lemparan kepada temannya. “ Ya pastinya sakit ken lemparan. Tapi karena tradisi ini sudah lama ya tidak boleh marah atau mempunyai dendam, “ terangnya. Para ibu-ibu dan warga lainnya menyaksikan acara tersebut. Dan warga yang melihat dipinggir jalan juga sempat dilempari nasi putih. Usai acara tersebut, nasi putih dan daun pisang itu rencananya akan dibuat makan hewan ternak.(Dt)

Keterangan Gambar : Prosesi perang nasi di Desa Blimbing Kecamatan Gurah.
Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved