Home » » Syahwat Berkuasa Politikus Kita

Syahwat Berkuasa Politikus Kita

Written By Hapra Indonesia on 11/10/2014 | 12:50

Sesungguhnya harus disadari bahwa berpolitik bukanlah sekedar urusan kalah atau menang saja. Politik adalah sebuah proses panjang dan berkelanjutan untuk membangun negara. Jika kemenangan atau kekuasaan yang menjadi tujuan, kita akan terjebak pada politik pragmatis yang justru menghancurkan bangsa.

Seminggu belakangan lagi-lagi kita disuguhi dagelan digedung wakil rakyat yang seharusnya terhormat. Sekelompok politikus berupaya membuat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Tandingan dengan mencoba membuat pimpinan dewan beserta alat kelengkapan dewan tandingan untuk menyaingi keberadaan para pimpinan dewan beserta alat kelengkapannya yang telah diputuskan melalui voting beberapa waktu lalu. Para politikus ini berdalih mereka tak terakomodasi dalam pemilihan ketua dewan.

Sebagaimana diketahui, pimpinan DPR/MPR masa kerja tahun 2014-2019 memang didominasi anggota partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP), pendukung calon pasangan presiden dan wakil presiden Prabowo-Hatta pada pemilihan presiden (pilpres) lalu.

Jumlah mereka yang mendominasi parlemen memang sangat memungkinkan untuk memenangkan pemilihan pimpinan. Sementara, para politikus yang berusaha membuat DPR tandingan adalah beberapa oknum anggota partai yang berasal dari Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pendukung pasangan Jokowi-JK.

Jika diperhatikan secara cermat, sesungguhnya aspirasi membentuk dewan tandingan bukanlah murni inisiatif partai-partai yang tergabung dalam KIH, tetapi hanya keinginan personal-personal beberapa politikus saja. Rupanya, para politikus ini masih terbawa emosi dan panasnya suasana politik pada pilpres lalu yang sesungguhnya telah berlalu. Kenyataan ini bisa dilihat dari ketiadaan dukungan para poilitisi senior partai terhadap gerakan ‘makar’ yang akan mereka lakukan.

Dalam pandangan yang lebih dalam, nampaklah bahwa mereka belum dewasa dalam berpolitik. Lebih dari itu, apa yang mereka lakukan secara jelas menunjukkan orientasi politik mereka yang dipenuhi syahwat untuk berkuasa. Bukan keinginan untuk bekerja semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik bagi masyarakat Indonesia dan konstituen mereka sebagai anggota dewan.

Sesungguhnya harus disadari bahwa berpolitik bukanlah sekedar urusan kalah atau menang saja. Politik adalah sebuah proses panjang dan berkelanjutan untuk membangun negara. Jika kemenangan atau kekuasaan yang menjadi tujuan, kita akan terjebak pada politik pragmatis yang justru menghancurkan bangsa.

Sebaliknya, jika menjadikan politik sebagai proses membangun bangsa maka dalam keadaan menang atau kalah sekalipun, kemajuan bangsa adalah tujuan utama. Tentu saja, hal yang sama berlaku bagi para ‘pemenang’ sebuah politik. Kemenangan bukan berarti menindas dan tidak memberi ruang bagi yang kalah, tetapi kemenangan akan lebih sempurna jika mampu memanusiakan pihak yang kalah. Siapapun yang kalah dan siapapun yang menang harus bergandeng tangan dan menjadikan kepentingan bangsa diatas segala-galanya.

Dalam idiomatik wisdom masyarakat Jawa ada banyak ajaran yang memiliki relevansi dengan politik. Salah satunya adalah menang tanpa ngasorake atau menang tanpa merendahkan/mengalahkan. Ada lagi, sugih tanpa banda, atau kaya tanpa harta yang juga bisa dimaknai kaya tanpa harta atau menang tanpa menguasai.

Sebagai sebuah warisan pemikiran luhur, tentu idiom-idiom ini bisa menjadi pegangan bahkan fatsoen kita dalam berpolitik. Bukankah leluhur kita juga mewariskan idiom yang sangat menusuk tentang kelompok besar yang rakus berkuasa, asu gedhe menang kerahe atau anjing besar menang bertengkar. Naudzubilla.

Oleh : Hary Pratondo

Dirut : PT. HAPRA INDONESIA NEWS
Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved