Home » , » Balita Ginjal Bocor Butuh Pertolongan Biaya Pengobatan

Balita Ginjal Bocor Butuh Pertolongan Biaya Pengobatan

Written By Hapra Indonesia on 1/01/2015 | 19:40

Kediri, hapraindonesia.co - Seorang balita laki-laki berusia 4 tahun, warga RT 32/RW 09 Dusun Sumberejo, Desa Bosowo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, mempunyai penyakit Shidroma Nefatik atau ginjal bocor.

Hingga saat ini, bocah yang bernama Zhidan Firmansyah, terkulai lemas di kamar tidurnya. Ironisnya, untuk biaya pengobatan di Rumah Sakit (RS), pihak keluarga tidak mempunyai biaya untuk pengobatannya.

Ditemui di rumah Suyoto, 36, dimana balita malang tersebut tinggal. Rumah dengan ukuran 4 X 6 meter, dinding triplek warna hijau, seorang nenek berpakaian warna merah menggendong balita di pinggulnya dengan jarit warna cokelat, berdiri di ruang tamu sambil menghibur bocah tersebut.

"Silahkan masuk mas. Maaf rumahnya sempit dan berantakan. Ya ini yang saya gendong namanya Zhidan Firmansyah, yang sakit ginjalnya bocor "tutur Mbah Bayem, 73, nenek Zhidan.

Selang berapa saat, ibu berpaikan warna putih paruh baya menghampiri ke ruang tamu dari belakang. Ibu yang bernama Kasri, 41, ini bersama Mbah Bayem merawat Zhidan, sakit. "Saya budenya Zhidan. Dan bapaknya Zhidan (Suyoto) ada di belakang rumah, "terang Kasri.

Saat ditanya kapan penyakit Zhidan itu muncul, menurut Kasri, sekitar dua minggu yang lalu. Sebelumnya di periksakan ke dokter oleh orang tuanya dan dinyatakan sakitnya Sidroma Nefatik oleh pihak dokter, Zhidan mengalami gejala panas dingin.

"Awalnya badannya panas dingin dan tubuh dan perutnya membesar. Karena takut kami bawa ke Rs Pare. Dan disana kata pak dokter ginjalnya Zhidan, bocor, "ungkapnya.

Lantaran tak mempunyai biaya, karena dari pihak dokter di anjurkan rawat inap. Suyoto pun memilih untuk rawat jalan. Pasalnya, kerja sehari-hari sebagai buruh serabutan, untuk biaya perawatan anaknya di RS tidak cukup sama sekali. "Oalah mas, dapat uang dari mana mau di rawat di RS. Buat makan saja tidak cukup. Kadang saya dan ibu saya yang ngasih makan, "jelas Kasri, sambil meneteskan air mata.

Tinggal di rumah berdinding triplek, dan kamar Zhidan berukuran 2 meter, untuk bocah yang sedang sakit tentunya tak begitu layak untuk ditempati. Setiap Suyoto bekerja, Zhidan harus dijaga bergantian dengan Kasri dan Mbah Bayem. "Ini rumah bedah rumah tahun 2012 mas, "lanjut Kasri.

Saat ditanya ibu Zhidan, menurut Mbah Bayem, Zhidan sejak berusia 7 bulan, ibunya sudah meninggalkannya. Berulangngkali di hubungi melalui nomer telephonya, Ibu Zhidan, tidak aktif.

"Ibunya sudah lama pergi dari rumah, tidak tau dimana tempatnya. Sudah di coba dihubungi ke orang tua ibu Zhidan, gak ada yang jenguk. Nanti kalau gak dikasih tau anaknya sakit, kami takut disalahkan, "paparnya.

Zhidan, yang mengalami sakit Sidroma Nefatik atau ginjal bocor, pada masih bayi nyaris di buang ke hutan oleh ibu kandungnya. Untungnya, kemarahan itu bisa di redam oleh Suyoto.

"Namanya juga masih bayi mas, nangisnya tidak tentu. Mungkin karena istri saya kesal anaknya nangis terus, anaknya mau di buang ke hutan, untungnya saya tahu dan tidak jadi di buang, "jelas Suyoto.

Zhidan di usia yang masih 4 tahun, dengan kondisi perut besar dan kaki bengkak nyaris hampir sama dengan ayahnya, hanya bisa merintih kesakitan dengan sakit yang di deritanya.

Harusnya, bocah tersebut bermain menikmati cerianya. "Saya tanya sakitnya dimana, dia (Zhidan) hanya menangis sambil merintih dan tidak mau menjawab, jujur mas kami sekeluarga kangen Zhidan bisa tertawa lagi, "timpal Mbah Bayem, sambil mengusap tetesan air mata, dengan bajunya.

Menurut Kasri, berat badan yang seusia Zhidan harusnya 15 kilo, namun karena sakitnya perut membesar dan kaki membengkak, berat badan Zhidan bertambah. Dan saat ditanya untuk makannya, Zhidan makan ala kadarnya.

"Kalau soal makan kadang mau kadang tidak, tergantung kami bertiga bagaimana Zhidan bisa makan setiap hari. Kalau sayur ya tidak pasti mas, adanya kates ya kates. Tapi, sejak Zhidan sakit, kami tidak pernah masak sayur lodeh, "terang Kasri.

Ditanya kesenangan hiburan Zhidan, dia kerap bermain bersama teman sebayanya senang bermain kuda lumping atau jaranan. Dan jika ada anak yang mengayun sepeda, dia menangis minta dibelikan. "Kalau bermain Zhidan, sukanya bawa barongan. Kemarin minta sepeda, ya masih kami janjikan saja, "sahut Kasri.

Harapannya, penyakit yang diderita Zhidan segera ditangani oleh pihak RS. Dan dari Pemerintah Kabupaten Kediri, segera memberi perhatian. "Yang pasti segera ada perhatian dari Pemerintah dan segera sakit yang di derita Zhidan segera sembuh, "harap Kasri.

Sementara Kepala Desa (Kades) Desa Besowo, Sumariono, saat ditemui di rumahnya, menuturkan, dari pohak keluarga Zhidan, sudah melakukan mengurus BPJS untuk di bawa persyaratan ke RS. Namun, pengurusan BPJS tersebut masih dalam proses. Selain itu, Kades berencana akan mengumpulkan Kasun 8 Dusun, untuk penggalangan dana. "Nanti malam saya akan Kasun 8 Dusun di Desa Sumberejo. Dan akan kita koordinasikan penggalangan dana minta sumbangan ke warga. Setelah terkumpul kita sumbangkan ke keluarga Zhidan, "jelas Kades.

Terpisah, Kabbag Humas Pemkab Kediri M. Haris Setiawan, menuturkan, terkait balita berusia 4 tahun terkena penyakit Sidroma Nefatik atau ginjal bocor, dia akan melakukan ke Dinas terkait untuk kroscek, ke rumah.

"Kami akan koordinasikan ke Dinsos dan Dinkes. Tentunya bocah tersebut segera mendapat perawatan dan lekas sembuh, "ujar Kabbag Humas Pemkab Kediri. Selanjutnya, Zhidan Jumat (2/1) pagi pukul 09.00 Wib, bersama keluarga dan didampingi perangkat desa setempat datang ke RSUD Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, untuk melakukan perawatan intensif.

Namun, karena belum mempunyai kartu BPJS dan tidak mempunyai biaya untuk perawatan intensif di RSUD Pelem, Zhidan harus dilakukan rawat jalan.

Didampingi Kades Besowo, Sumarino, BPD dan tokoh masyarakat, Zhidan bersama Suyono, bermaksud datang ke RSUD untuk mendapatkan perawatan medis yakni rawat inap. Saat berada di Poli anak RSUD tersebut, usai dilakukan pemeriksaan, Zhidan, dianjurkan rawat inap.

Namun, anjuran dari pihak RS tersebut, pihak keluarga Zhidan memilih untuk rawat jalan. Pasalnya, keluarga Zhidan belum memiliki kartu BPJS sebagai persyaratan di RS tersebut untuk rawat inap. Apalagi, jika memilih untuk rawat umum, biaya sendiri, keluarga Zhidan tidak mampu untuk membayar dengan tidak mempunyai uang.

"Tadi di RSUD disuruh rawat inap oleh dokternya. Sama dokter ditanya punya kartu BPJS apa tidak? Ya saya jawab belum punya. Dan tadi juga ditanya di suruh biaya sendiri, tapi saya tidak punya uang, "tutur Suyoto, 36, orang tua Zhidan.

Sementara itu Kabag Humas RSUD Pelem, Pare, Hari Susanto, menuturkan, pasien yang belum memilik kartu BPJS yang ingin dilakukan rawat inap, harus masuk di rawat umum atau biaya sendiri.

"Kalau belum mempunyai kartu BPJS ya harus di urus dulu hingga selesai. Dan kalau sudah selesai bisa digunakan. Kalau belum punya kartu BPJS ya rawat umum dulu atau biaya sendiri, "jelas Kabag Humas RSUD Pelem.(Dt/B@)

Keterangan Gambar : Zidan duduk dipangkuan Suyanto, bersama keluarganya.
Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved