Home » » Jajanan Berbahaya Anak Kita

Jajanan Berbahaya Anak Kita

Written By Hapra Indonesia on 1/09/2015 | 13:51

Kediri, hapraindonesia.co - Peringatan serius bagi para orang tua! Awasi konsumsi jajanan anak-anak kita. Hasil investigasi HAPRA Indonesia memperoleh fakta mengagetkan; selain tak terjamin kebersihannya ternyata ada banyak bahan berbahaya yang dicampurkan dalam jajanan anak-anak kita.

Efeknya, bahan-bahan kimiawi itu tak hanya berpotensi menjadi pemicu kanker tetapi juga menimbulkan penyakit berat sepuluh tahun kemudian.

Konsep adiwiyata yang digagas Departemen Pendidikan Nasional dengan salah satu bidang garapnya adalah memperhatikan makanan dan jajanan siswa sehingga benar-benar terjaga kebersihan dan gizinya ternyata tidaklah cukup. Sepulang sekolah, jajanan berbahaya lainnya berulangkali lewat depan rumah untuk menggoda hasrat makan bocah-bocah kita.

Berdasarkan hasil investigasi ini dapat diketahui, bahwa penyakit berat seperti darah tinggi dan stroke yang semakin banyak mengenai orang-orang berusia muda salah satunya juga akibat dari konsumsi jajanan berbahaya ini. Laporan investigasi kali ini menurunkan secara lengkap aneka jenis bahan berbahaya yang digunakan beserta efek yang ditimbulkan agar kita lebih berhati-hati dalam mengawasi pola jajanan anak-anak kita.

Dari Pengawet Mayat Hingga Bahan Kadaluwarsa

Masa kanak-kanak adalah dunia bermain dan makan-makan. Tak heran, bisnis makanan anak-anak adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Untung yang menggiurkan membuat banyak orang berusaha mencari uang dengan berjualan jajanan anak. Bukan hanya para pedagang kecil dengan ekonomi pas-pasan, para pemodal besar pun banyak yang tertarik menggarap bisnis ini.

Bayangkan saja, jika rata-rata seorang anak sekolah usia TK, SD, SMP dan SMA memiliki uang saku tiga ribu rupiah, berapa ratus juta dana yang berputar dibisnis ini dalam sehari disebuah kabupaten. Tak heran banyak orang yang gelap mata berusaha mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan cara yang tak benar. Salah satunya adalah menggunakan bahan-bahan berbahaya dalam pembuatan makanan.

Bahan paling kuno yang kerap digunakan dalam bisnis ini adalah pemanis buatan (dalam bahasa Jawa lebih dikenal dengan sebutan obat gulo). Di toko bahan makanan, bahan ini memiliki beberapa jenis pilihan, mulai dari yang berharga ratusan ribu perkilo hingga belasan ribu saja untuk ukuran yang sama. Kualitas dan efek penggunaan bahan menjadi pembeda utama.

Gula tiruan atau sintetis dengan kualitas baik, yang tentu saja berharga mahal, sesungguhnya tidak banyak memiliki efek negatif seperti menyebabkan batuk dan lain sebagainya. Karenanya, gula sintetis jenis ini banyak dipakai oleh industri makanan berskala besar dan tetap lolos uji kelayakan pangan.

Sayangnya, para pedagang makanan anak lebih memilih gula sintetis berharga murah agar memperoleh keuntungan jauh lebih tinggi. Akibatnya bisa ditebak, gula jenis ini menjadi pemicu batuk pada anak kecil. Bila dikonsumsi secara berkepanjangan, sifat sintetisnya yang tidak mudah diurai tubuh menjadi pemicu penyakit diabetes melitus (kencing manis) dan gagal ginjal.

Selain gula, bahan lain yang mudah ditemui pada jajanan anak adalah Mono Sodium Glutamat (MSG) alias penyedap rasa. Bahkan hampir bisa dikata, tak ada jajanan anak yang dibumbui dengan benar menggunakan bahan bumbu dan rempah-rempah selain menggunakan bahan penyedap ini. Konsumsi secara berlebihan dalam jumlah banyak menjadi pemicu hipertensi (darah tinggi) dan aterosklerosis (pengerasan dinding pembuluh darah) yang bisa mengakibatkan stroke.

Bahan berbahaya lainnya terdapat pada bahan pembuat dan pengolah jajanan. Tim investigasi HAPRA Indonesia menemukan pabrik es kesukaan anak-anak yang menggunakan susu kadaluwarsa sebagai bahan. Untuk mendapatkan bahan tersebut, pihak perusahaan es memesan susu-susu kadaluarsa kepada pemilik minimarket dan supermarket. Mereka menganggap susu kadaluarsa masih bisa dikonsumsi selama kemasannya belum rusak atau berubah.

Sebagai pengolah jajanan, biasanya terjadi pada jajanan gorengan, digunakan minyak goreng bekas. Beberapa pedagang nakal memperoleh minyak goreng ini dari gerai makanan siap saji. Umumnya, gerai siap saji hanya menggunakan minyak goreng untuk sekali pakai. Oleh oknum pegawai yang nakal, minyak goreng yang terlihat masih bagus ini diselundupkan untuk dijual kepada para pedagang nakal dengan harga murah.

Setelah bahan utama, bahan perasa dan bahan pengolah, bahan berbahaya juga ditemukan pada bahan pengawet jajanan. Sebagaimana kita ketahui, lazimnya panganan basah tak memiliki waktu lama untuk bertahan. Lazimnya hanya 12-24 jam untuk kemudian menjadi basi. Padahal, jajanan basah tidak bisa dipastikan laku sesuai harapan setiap harinya.

Agar para pedagang dan produsen tidak mengalami kerugian, digunakanlah bahan pengawet agar makanan dapat bertahan lebih lama. Sayangnya, sekali lagi demi memperoleh keuntungan besar, bahan yang digunakan pun ngawur. Dari tayangan investigasi yang dilakukan oleh beberapa stasiun tevisi dapat diketahui bahwa ada pedagang yang menggunakan borax dan formalin sebagai pengawet.

Kedua bahan ini sebenarnya sangat berbahaya jika dicampurkan pada makanan karena beracun dan tak terurai tubuh. Bahan-bahan ini lazim digunakan untuk keperluan mengawetkan mayat sebelum dikremasi atau dikirimkan kepada keluarganya yang jauh. Dengan diberi formalin mayat akan tahan dan tidak busuk. Lalu, bayangkan jika bahan ini tertelan dan berada di perut anak-anak kita.

Jajanan Gurih Penyebab Hipertensi dan Stroke

Catatan Departemen Kesehatan menunjukkan naiknya jumlah penderita penyakit berat seperti stroke, darah tinggi, ginjal dan aneka penyakit berat lainnya dalam beberapa tahun belakangan. Yang lebih mengerikan, kenaikan jumlah penderita itu juga diikuti dengan semakin mudanya umur penderita. Para penderita tak hanya orang tua tetapi juga yang masih berusia muda.

Bila sepuluh tahun yang lalu penyakit berat biasanya hanya diderita oleh orang-orang berusia empat puluh tahun keatas, kini tak jarang usia belasan dan dua puluhan tahun telah mengidap penyakit tersebut. Dilingkungan sekitar kita akan sangat mudah ditemui para penderita darah tinggi (hipertensi) dengan usia muda. Jumlahnya pun semakin meningkat setiap tahunnya.

Menurut Dr. Atjok Witjaksono, dokter spesialis penyakit dalam yang bertugas dibeberapa rumah sakit besar Jakarta menyatakan bahwa salah satu penyebab munculnya penyakit tersebut adalah konsumsi garam berlebih yang dilakukan dalam jangka waktu lama. Tanpa kita sadari, garam-garam tersebut dikonsumsi oleh anak-anak kita melalui jajanan yang dimakannya.

Idealnya, setiap orang hanya membutuhkan garam sebanyak 2 gram atau 1,5 sendok teh setiap hari. Tetapi pada kenyataannya, masyarakat Indonesia rata-rata mengkonsumsi 6-7 gram garam setiap harinya. Selain berasal dari garam yang dipergunakan dalam masakan, kita juga memperoleh asupan garam dari bahan makanan atau minuman lain yang kita konsumsi.

Seluruh makanan yang kita konsumsi dan memiliki cita rasa asin bisa dipastikan mengandung garam. Makanan ringan (snack), krupuk, camilan yang berasa asin dan gurih dapat dipastikan memiliki kandungan garam yang cukup tinggi. Apalagi, bahan makanan tersebut jelas-jelas menggunakan kata asinan, sebagai penanda makanan yang diawetkan dengan diasinkan.

Konsumsi garam terbanyak juga diperoleh dari mie instan. Biasakan memilih mie instant bukan berdasarkan merk atau rasanya, tetapi berdasarkan kandungan jumlah natrium yang dapat dibaca pada bagian belakang kemasan. Semakin rendah jumlah natrium, lebih aman untuk dikonsumsi meski kita tak menjamin kebenaran apa yang tertulis.

Sebagai gambaran, jika kandungan natrium yang tertulis 50% berarti kita tinggal hanya diperbolehkan mengkonsumsi garam satu gram lagi dalam sehari, demikian seterusnya. Parahnya, ada beberapa merk mie instan yang memiliki kandungan natrium 125%. Artinya, memakan satu bungkus mie instan ini saja kita telah mengalami overdosis garam dalam sehari tersebut.

Selain itu, garam juga didapat dari soda kue yang dipergunakan dalam pembuatan roti dan aneka macam kue. Bahan makanan lain yang mengandung garam adalah keju, sardine, daging asap, ikan asin, telur asin, abon, mentega, margarine dan lain sebagainya. Pendek kata, ada banyak garam yang bisa terkonsumsi setiap saat tanpa kita sadari.

Bila dijumlahkan, tentu saja, konsumsi garam kita mengalami overdosis setiap harinya. Konsumsi garam berlebih akan mengakibatkan tertahannya air dalam tubuh sehingga volume darah yang beredar akan meningkat. Tingginya volume darah akan meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah. Inilah yang kemudian disebut dengan darah tinggi atau hipertensi yang bisa mengakibatkan gangguan jantung atau stroke.

Aparat Harus lakukan Razia dan Pembinaan

Jajanan anak telah jelas tak sedikit yang menggunakan bahan-bahan berbahaya pemicu aneka penyakit. Meskipun demikian hingga saat ini tak ada tindakan dari aparat yang berwenang, baik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan atau aparat Kepolisian setempat. Ketiadaan laporan korban mungkin menjadi salah satu penyebabnya.

Padahal, disisi lain, lembaga-lembaga ini terkesan rajin merazia supermarket-supermarket besar. Terlebih ketika menjelang hari raya atau even-even dimana masyarakat membutuhkan banyak konsumsi makanan. Kesan tebang pilih yang berujung pada pandangan minor benarkah razia-razia itu bukan untuk kepentingan tertentu tentu saja tak bisa dihindari untuk mengemuka.

Tentu ada perasaan segan jika harus merazia para pedagang jajanan yang umumnya adalah masyarakat dengan ekonomi pra-sejahtera. Tetapi bahaya yang terus mengancam akibat penggunaan bahan-bahan berbahaya tentu saja tak bisa diabaikan begitu saja. Perlu langkah-langkah pendekatan yang mengutamakan pembinaan dalam mengatasinya.

Untuk kepentingan tersebut, aparat bisa melakukan razia yang dibarengi dengan pembinaan. Artinya, para pedagang kecil yang terbukti menggunakan bahan tak layak makan tidak dijatuhi hukuman tetapi diberikan pembinaan dan pemahaman. Adakalanya, seorang pedagang menggunakan bahan tak layak konsumsi bukan semata alasan keuntungan, tetapi juga karena ketidak tahuan.

Setelah mendapatkan pemahaman, tak ada salahnya jika para pedagang yang telah berjualan secara sehat mendapat bonus. Bisa berupa pinjaman ringan untuk meningkatkan usaha atau bonus lainnya. Bukankah mereka juga bagian dari usaha kecil yang pantas mendapat perhatian.

Pendekatan hukum baru bisa diberikan kepada perusahaan yang menggunakan bahan tak layak makan. Sebagai perusahaan, tentu, banyak keuntungan yang mereka raup dari cara kotor nan keji itu. Akibatnya juga jelas, akan ada lebih banyak korban dibanding perbuatan serupa yang dilakukan oleh seorang pedagang yang sudah tentu memiliki keterbatasan gerak pula. (arv

Keterangan Gambar : Anak Anak Sekolah SD sedang membeli jajanan.
Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved